Runtuhnya Orde Baru pada tahun 1998 merupakan salah satu momen paling krusial dalam sejarah Indonesia modern, menandai berakhirnya rezim yang berkuasa selama 32 tahun dan dimulainya era reformasi yang membawa perubahan signifikan dalam tatanan politik, sosial, dan ekonomi bangsa. Peristiwa ini tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan merupakan akumulasi dari berbagai faktor kompleks yang telah mengendap selama beberapa dekade. Untuk memahami sepenuhnya keruntuhan ini, kita perlu menempatkannya dalam konteks sejarah yang lebih luas, termasuk warisan masa prasejarah Nusantara, perumusan Pancasila sebagai dasar negara, dan bagaimana sejarah Indonesia telah dirumuskan dan ditulis selama berabad-abad.
Sebelum membahas faktor-faktor spesifik yang menyebabkan keruntuhan, penting untuk memahami ruang lingkup sejarah Indonesia yang mencakup periode panjang dari masa prasejarah hingga modern. Nusantara, sebagai konsep geografis dan kultural, telah menjadi rumah bagi peradaban yang berkembang selama ribuan tahun. Masa prasejarah di wilayah ini ditandai dengan perkembangan masyarakat agraris, sistem kepercayaan animisme-dinamisme, dan jaringan perdagangan awal yang menghubungkan berbagai pulau. Warisan ini membentuk fondasi budaya yang kemudian mempengaruhi perkembangan masyarakat Indonesia, termasuk dalam merespons perubahan politik di era modern.
Perumusan Pancasila pada tahun 1945 oleh para pendiri bangsa menjadi momen penting dalam pembentukan identitas nasional Indonesia. Kelima sila yang mencakup Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, dan Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, dimaksudkan sebagai pedoman bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Namun, selama era Orde Baru di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto, implementasi Pancasila seringkali digunakan sebagai alat legitimasi politik yang justru mengaburkan prinsip-prinsip demokrasi dan keadilan sosial yang terkandung di dalamnya.
Penulisan sejarah selama Orde Baru menjadi salah satu alat penting dalam mempertahankan kekuasaan. Pemerintah secara aktif terlibat dalam perumusan sejarah nasional yang cenderung heroik dan mengabaikan narasi-narasi kritis. Unsur-unsur sejarah seperti aktor, peristiwa, waktu, dan tempat sering disajikan secara selektif untuk mendukung stabilitas rezim. Metodologi penulisan sejarah yang digunakan lebih menekankan pada pendekatan struktural-fungsional yang melihat negara sebagai entitas yang harus stabil, seringkali mengorbankan analisis konflik dan ketegangan sosial yang sebenarnya terjadi dalam masyarakat.
Faktor ekonomi menjadi pemicu utama keruntuhan Orde Baru. Krisis moneter Asia tahun 1997 berdampak parah pada ekonomi Indonesia, menyebabkan devaluasi rupiah yang drastis, inflasi tinggi, dan meningkatnya pengangguran. Sistem ekonomi yang selama ini dikendalikan oleh segelintir konglomerat dekat dengan kekuasaan terbukti rapuh ketika menghadapi guncangan eksternal. Ketidakmampuan pemerintah menangani krisis ini memperburuk ketidakpuasan masyarakat yang sudah lama merasakan ketimpangan ekonomi selama pembangunan Orde Baru.
Faktor politik juga berperan penting dalam mempercepat keruntuhan. Selama tiga dekade, Orde Baru menerapkan sistem politik yang sangat sentralistik dan represif. Partai politik dibatasi hanya tiga (Golkar, PPP, dan PDI), sementara kebebasan berpendapat dan berkumpul sangat dibatasi. Pemilu yang diadakan secara rutin lebih bersifat ritual demokrasi daripada proses kompetisi politik yang sebenarnya. Akumulasi ketidakpuasan terhadap sistem ini akhirnya meledak dalam bentuk gerakan mahasiswa dan masyarakat sipil yang menuntut reformasi total.
Gerakan mahasiswa menjadi motor penggerak utama dalam proses transisi menuju reformasi. Bermula dari kampus-kampus di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan kota besar lainnya, aksi demonstrasi mahasiswa berkembang menjadi gerakan nasional yang menuntut pengunduran diri Soeharto, penghapusan KKN (Korupsi, Kolusi, Nepotisme), dan penyelenggaraan pemilu yang demokratis. Tragedi Trisakti pada 12 Mei 1998, dimana empat mahasiswa tewas ditembak, menjadi titik balik yang mempercepat proses keruntuhan rezim.
Faktor sosial dan budaya turut berkontribusi dalam proses keruntuhan. Selama Orde Baru, terjadi marginalisasi terhadap berbagai kelompok masyarakat, termasuk etnis Tionghoa yang sering menjadi sasaran diskriminasi. Kerusuhan Mei 1998 yang menyasar etnis Tionghoa dan properti mereka menunjukkan akumulasi ketegangan sosial yang selama ini ditekan. Selain itu, sentralisasi kekuasaan di Jakarta menimbulkan kekecewaan di daerah-daerah yang merasa dieksploitasi sumber dayanya tanpa mendapatkan pembangunan yang merata.
Transisi menuju era reformasi tidak berjalan mulus. Setelah pengunduran diri Soeharto pada 21 Mei 1998, Indonesia memasuki periode transisi yang dipimpin oleh B.J. Habibie. Meskipun singkat, pemerintahan Habibie berhasil melakukan beberapa perubahan penting seperti pencabutan pembatasan terhadap partai politik, penyelenggaraan pemilu demokratis tahun 1999, dan memberikan otonomi yang lebih luas kepada daerah. Namun, transisi ini juga diwarnai berbagai tantangan seperti konflik di Ambon, Poso, dan terutama di Aceh yang kemudian memuncak dalam tragedi tsunami Aceh tahun 2004.
Tragedi tsunami Aceh tahun 2004, meskipun terjadi beberapa tahun setelah runtuhnya Orde Baru, tidak dapat dipisahkan dari konteks sejarah panjang daerah tersebut. Selama Orde Baru, Aceh mengalami represi militer dalam menangani gerakan separatis GAM (Gerakan Aceh Merdeka). Pasca-tsunami, bencana alam ini justru membuka jalan untuk penyelesaian konflik melalui perjanjian damai Helsinki tahun 2005, menunjukkan bagaimana peristiwa alam dapat mempengaruhi proses politik dan sejarah suatu bangsa.
Dalam konteks penulisan sejarah pasca-Orde Baru, terjadi perubahan signifikan dalam metodologi dan pendekatan. Sejarawan sekarang lebih bebas mengeksplorasi berbagai aspek sejarah yang sebelumnya dianggap tabu, termasuk pelanggaran HAM masa lalu, peran militer dalam politik, dan dinamika kekuasaan di tingkat lokal. Unsur-unsur sejarah seperti konteks, interpretasi, dan multiperspektif mendapatkan perhatian lebih besar dalam upaya memahami kompleksitas pengalaman bangsa Indonesia.
Perumusan sejarah Indonesia pasca-reformasi juga menghadapi tantangan baru. Di satu sisi, terdapat kebutuhan untuk menciptakan narasi nasional yang inklusif dan mengakui keragaman pengalaman berbagai kelompok masyarakat. Di sisi lain, terdapat risiko politisasi sejarah untuk kepentingan kelompok tertentu. Proses ini membutuhkan keseimbangan antara objektivitas akademik dan relevansi sosial, serta kesadaran bahwa sejarah bukanlah sesuatu yang statis tetapi terus berkembang seiring dengan perubahan masyarakat.
Refleksi tentang runtuhnya Orde Baru mengajarkan pentingnya pembelajaran dari sejarah. Sistem politik yang terlalu sentralistik, ekonomi yang tidak inklusif, dan represi terhadap kebebasan berekspresi terbukti tidak berkelanjutan dalam jangka panjang. Era reformasi yang dimulai tahun 1998 telah membawa perubahan signifikan, meskipun masih banyak tantangan yang harus dihadapi, seperti konsolidasi demokrasi, pemberantasan korupsi, dan penegakan hukum yang adil.
Dalam konteks Nusantara yang lebih luas, pengalaman Indonesia dalam transisi dari otoritarianisme ke demokrasi memberikan pelajaran berharga tentang ketahanan masyarakat dalam menghadapi perubahan. Warisan masa prasejarah yang menekankan gotong royong dan kearifan lokal, bersama dengan nilai-nilai Pancasila yang sejatinya mengedepankan keadilan dan persatuan, dapat menjadi sumber kekuatan dalam membangun masa depan yang lebih baik.
Penulisan sejarah tentang periode transisi ini harus memperhatikan kompleksitas faktor-faktor yang terlibat, mulai dari tekanan ekonomi global hingga dinamika politik lokal. Dengan memahami unsur-unsur sejarah secara komprehensif - aktor, struktur, konteks, dan proses perubahan - kita dapat mengembangkan pemahaman yang lebih nuanced tentang salah satu momen paling menentukan dalam sejarah Indonesia modern, serta implikasinya bagi pembangunan bangsa ke depan.